Bandara Felipe Ángeles: Rumitnya Pembangunan Bandara Baru Mexico City

Photo: Airportir.com

Airportman.id – Pada 21 Maret 2022 lalu, Mexico City, ibukota negara Meksiko meresmikan dan membuka sebuah bandara baru yaitu Bandara Felipe Ángeles (NLU).

Ide pembangunan bandara baru ini bahkan sudah ada sejak tahun 1960-an, dimana ketika itu Bandara Benito Juárez (MEX), yang telah dibuka sejak 1929 diprediksi tidak akan dapat dilakukan ekspansi karena terbatasnya area akibat pemukiman yang makin padat di sekitar bandara. 

Di Tahun 1967, ada sebuah lokasi yang dianggap potensial sebagai area untuk bandara baru, yaitu di Zumpango, berjarak 45 kilometer dari Mexico City. Area tersebut sudah terdapat pangkalan udara militer Santa Lucía, yang dibuka pada tahun 1952.

Lokasi tersebut akhirnya ditetapkan sebagai area pembangunan bandara baru Mexico City pada tahun 1974, karena traffic Bandara Benito Juárez (MEX) yang tumbuh sangat cepat sehingga mengakibatkan kepadatan dan permasalahan keselamatan yang cukup besar.



Dengan adanya bandara di Zumpango, direncanakan Bandara Benito Juárez (MEX) akan fokus digunakan untuk general aviation dan beberapa rute domestik yang sibuk, dan penerbangan internasional dan domestik lainnya akan ditangani oleh bandara baru.

Bandara baru tersebut direncanakan memiliki kapasitas terminal hingga 15 juta penumpang per tahun (dapat dikembangkan hingga 25 juta penumpang) dengan tiga runway paralel dan sebuah runway cross-wind.

Namun pembangunan bandara baru di Zumpango pada akhirnya dibatalkan pada tahun 1980-an karena pemerintah Meksiko gagal mengamankan pendanaan. Pada akhirnya, Bandara Benito Juárez (MEX) diperbesar hingga dua kali lipat.

Di tahun 1984, pemerintah Meksiko membuka bandara baru, yaitu Bandara Toluca (TLC) yang berjarak 60 km sebelah barat Mexico City, namun Bandara Toluca kurang diminati oleh maskapai, karena elevasi bandara dari muka air laut, yaitu 2.580 meter. Dengan ketinggian tersebut performa pesawat menjadi menurun dan biaya operasional maskapai meningkat.

Karena kegagalan-kegagalan tersebut akhirnya pemerintah Meksiko melakukan studi lebih lanjut untuk mencari solusi jangka panjang terkait kebutuhan bandara di Mexico City. Dari studi tersebut diperoleh tiga solusi yaitu: pembangunan bandara baru di Texcoco sekaligus menggantikan Bandara Benito Juárez; memperbesar kapasitas Bandara Toluca; atau memperbesar lagi kapasitas Bandara Benito Juárez.

Dan pada akhirnya opsi terakhirlah yang dipilih, walaupun pada akhirnya dibatalkan pada 1980-an karena traffic penumpang di Bandara Benito Juárez yang hanya berkisar 10-11 juta per tahun saja tanpa ada peningkatan berarti.

Pada tahun 1990-an, saat traffic penerbangan kembali meningkat di Bandara Benito Juárez, seluruh penerbangan general aviation dipindahkan ke Bandara Toluca untuk meringankan beban.

Akhirnya dilakukan studi kembali di tahun 1996 dan diperoleh opsi salah satunya adalah penambahan runway ketiga di Bandara Benito Juárez yang letaknya di luar perimeter.  Namun ada dua opsi lain yang dianggap lebih layak yaitu membangun bandara pengganti di Texcoco atau membangun bandara baru lagi dekat kota Tizayuca. Namun opsi terakhir tidak dipilih karena jarak yang terlalu jauh (80 km) dari Mexico City.

Texcoco lebih masuk akal, namun ada keberatan yang muncul juga karena lokasi yang diajukan tersebut ada di danau, yang selama ini berperan penting mengendalikan air dan mencegah terjadinya banjir di Mexico City. Selain itu danau tersebut menjadi lokasi suaka burung yang bermigrasi di Amerika Utara, sehingga apabila dibangun dapat berpotensi menjadi hazard.

Setelah diumumkan pembangunannya di 22 Oktober 2001, akhirnya proyek tersebut dibatalkan di tahun 2006 karena ada protes yang berujung bentrokan antara warga sipil dan polisi.

Bandara Benito Juárez akhirnya di ekspansi kembali dengan adanya pembangunan Terminal 2 yang dibuka tahun 2007. Namun hal ini tidak mampu meringankan beban traffic Bandara Benito Juárez, karena kapasitas runway tidak ditingkatkan. 

Selanjutnya, pemerintah Meksiko membangun terminal baru di Bandara Toluca di tahun 2006 dengan gagasan memindahkan 25% traffic dari Bandara Benito Juárez. 

Pada awalnya gagasan tersebut berhasil, namun di tahun 2009, akibat adanya krisis ekonomi di Mexico, banyak maskapai yang mengurangi rute perjalanan dan traffic penumpang pun kembali menurun.



Di tahun 2014, untuk merespon krisis kapasitas, Presiden Enrique Peña Nieto meluncurkan kembali gagasan pembangunan bandara di Texcoco dengan lokasi bergeser agak ke Barat dari rencana awal di tahun 2001, di lokasi yang sudah dimiliki oleh pemerintah.

Proyek pembangunan bandara ini digadang-gadang sebagai proyek infrastruktur terbesar Mexico di abad 21 ini. Dengan kapasitas 70 juta penumpang per tahun, 2 juta ton kargo per tahun dan tiga buah runway pada tahap pertama; akan meningkat menjadi 135 juta penumpang per tahun (dua terminal penumpang dan dua terminal satelit) dan enam paralel runway di tahap akhir pengembangan. 

Dengan skala pembangunan yang begitu besar dan jarak yang sangat dekat antara Bandara Benito Juárez dan lokasi bandara Texcoco, maka Bandara Benito Juárez diproyeksikan akan ditutup setelah bandara baru dioperasikan. Dan konstruksi bandara baru dimulai pada September 2015.

Pada tahun 2018, setelah terpilihnya Presiden Baru Meksiko, Andrés Manuel López Obrador, dilakukan referendum terhadap proyek pembangunan bandara di Texcoco, lebih dari satu juta orang mengikuti voting, dan dua pertiganya memilih untuk menghentikan pembangunan bandara baru. Dan pada tanggal 27 Desember 2018, proyek yang sudah berjalan sepertiganya akhirnya dihentikan total.

Setelah dihentikannya proyek pembangunan bandara di Texcoco, muncul gagasan untuk mengembangkan dan menjadikan pangkalan militer Santa Lucía menjadi bandara sipil. Dan yang unik dari proyek ini adalah keterlibatan militer melalui Mexican Office for National Defence (SEDENA) dalam proses desain, konstruksi hingga operasi. Dengan terlibatnya militer, bandara baru tersebut diberi nama dengan nama seorang Jenderal, Felipe Ángeles Ramírez.

 

Konstruksi Bandara Felipe Ángeles (NLU) dimulai pada Juli 2019. SEDENA menggandeng arsitek Meksiko, Francisco Gonzales-Pulido. Yang menarik Pulido pernah kalah dari arsitek Norman Foster dan Fernando Romero dalam kompetisi desain untuk proyek Bandara Texcoco.

Desain bandara sendiri untuk tahap awal dapat mengakomodir hingga kapasitas 19,5 juta penumpang (luas terminal 384 ribu m2) dan 470 ribu ton kargo setiap tahun. Dengan tiga runway (dua untuk penerbangan sipil dan satu untuk militer) yang dapat bertambah menjadi empat untuk pengembangan selanjutnya. Kapasitas ultimate bandara ini diklaim mampu menangani hingga 160 juta penumpang di masa depan, dan diasumsikan 85 juta penumpang tercapai di tahun 2050.

Menurut website resmi Bandara Felipe Ángeles, sejak dibuka pada Maret lalu, hanya 4 maskapai saja yang terbang dari dan ke Felipe Ángeles, yaitu Aeromexico Connect, Viva Aerobus, Volaris dan Conviasa.



Giovanni Pratama

Giovanni Pratama

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian