Bandara I Gusti Ngurah Rai-Bali: Jadi yang Pertama Melayani Penerbangan Jumbo Jet Airbus A380 Emirates di Indonesia

Photo by Tim Dennert on Unsplash

Airportman.id – Akhir tahun 2022 dunia aviasi di Indonesia sempat diramaikan oleh rencana pesawat berbadan jumbo, Airbus A380 ke Indonesia. Beberapa kanal berita tidak ketinggalan untuk membahasnya salah satunya Liputan6 dengan artikel berjudul “Pesawat Raksasa Airbus A380 Emirates Bakal Terbang Reguler ke Bali” yang terbit pada 8 November 2022 (Link Artikel). Artikel tersebut menyebut Airbus A380 Emirates akan terbang ke Bali pada 2023.

Rencana kedatangan ini cukup menarik disimak bukan hanya merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia namun juga tentang sejarah perkembangan pesawat berbadan besar, awal mula pengembangan A380 hingga kebutuhan fasilitas pendukung di bandara untuk mengoperasikan pesawat raksasa ini. Artikel singkat ini akan membahas sejarah pengembangan hingga kesiapan Bandara Bali untuk menyambut kedatangan si full double decker ini.

Sejak penerbangan pesawat terbang komersial pertama oleh St. Petersburg–Tampa Airboat Line pada Januari 1914 dari St Petersburg ke Tampa Florida pabrikan pesawat berlomba-lomba menciptakan pesawat komersial dengan jarak terbang terjauh, tercepat, tertinggi hingga menjadi pesawat yang terbesar.

Penerbangan komersial jarak jauh pertama mengelilingi dunia dilakukan oleh maskapai Pan American World pada Juni 1947. Dengan menggunakan pesawat jenis Lockheed L-049 Constellation, penerbangan keliling dunia ini dimulai dari San Fransisco-Honolulu-Hong Kong-Bangkok-Delhi-Beirut- Istanbul-Frankfurt-London-New York. Perjalanan keliling dunia ini ditempuh selama tiga hari. Air France dan British Airways tercatat sebagai maskapai pertama yang mengoperasikan pesawat jet supersonik tercepat di dunia. Dengan kecepatan maksimal mach 2 atau 2.470 km per jam pesawat jenis concorde buatan British Aircraft Corporation ini mampu terbang dari London menuju New York dalam waktu hanya tiga jam atau dua kali lebih cepat dari pesawat dengan kecepatan subsonik.



 
Boeing B747 dan Boeing B707, Pesawat terbesar di eranya (Sumber: Boeing Historical Archives)

Dengan semakin banyaknya pengguna transportasi udara, pabrikan pesawat mulai mendesain pesawat dengan kapasitas penumpang yang semakin besar. Pada tahun 1940-an pesawat Lockheed L-049 Constellation memiliki kapasitas 60-80 penumpang. Di era 1950-an muncul pesawat penumpang dengan kapasitas hingga 200 penumpang yaitu Boeing B707. Di akhir era 1960-an Pabrikan Boeing  meluncurkan pesawat komersial terbesar saat itu yang diberi nama Boeing B747. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 420 seat. Pesawat ikonik ini memiliki empat mesin jet dengan ciri khas double decker di bagian depan fuselage (badan pesawat) yang membuat pesawat ini seperti memiliki punuk. Lantai atas hanya digunakan untuk kelas bisnis dan ruang kemudi pesawat. Boeing B747 sukses digunakan di berbagai belahan dunia.

Garuda Indonesia pernah mengoperasikan tidak kurang dari 11 pesawat jenis ini untuk melayani rute-rute internasional long haul maupun rute domestik. Masyarakat umum mengenalnya sebagai ‘pesawat haji’ karena selalu digunakan untuk mengangkut jamaah haji Indonesia. Saat itu belum ada pabrikan lain yang berhasil menciptakan pesawat dengan kapasitas lebih besar dari pesawat yang dijuluki ‘Queen of the Sky’ ini. Hingga di era 2000-an Airbus Industry memperkenalkan Airbus A380 sebagai jawaban dari dominasi B747 selama tidak kurang dari empat dekade. Kapasitas penumpang pesawat ini mencapai 550-an seat. Kapasitas ini masih bisa ditingkatkan hingga 850 seat dengan merubah konfigurasi menjadi hanya kabin ekonomi.

Full Double Decker Jumbo Jet

Penerbangan pertama A380 dilakukan pada 27 April 2005 di Toulouse Prancis setelah melalui proses perencanaan dan pengembangan selama 16 tahun dengan biaya riset hingga USD 10 milyar. Singapore Airlines menjadi yang pertama mengoperasikan si full double decker ini pada 2007. Saat ini tidak kurang dari 256 pesawat A380 dioperasikan oleh berbagai maskapai diantaranya Singapore Airlines, Emirates, Lufthansa, Qantas, Korean Air dll. Emirates tercatat sebagai pengguna terbanyak dengan jumlah 118 unit. Namun sayang karena perubahan tren permintaan airline yang lebih membutuhkan pesawat berukuran sedang dengan hanya dua engine (Airbus A330, A350, Boeing B787), akhirnya Airbus menghentikan produksi jumbo jet ini pada tahun 2021. Peralihan tren penggunaan jenis pesawat ini disebabkan faktor biaya operasional-perawatan, fleksibilitas jumbo jet yang tidak seperti pesawat berukuran medium, dan faktor lainnya.

Menjadi pesawat penumpang terbesar saat ini, A380 tentu memiliki spesifikasi teknis yang serba lebih jumbo dibandingkan pesawat lainnya. Dengan bentang sayap (wingspan) mencapai hampir 80 meter menjadikannya pesawat komersial paling lebar saat ini. Wingspan Boeing 747 hanya sebesar 65 meter. A380 mampu membawa lebih banyak bahan bakar sehingga memiliki jarak jangkau maksimal hingga 14.800 km atau 10% lebih jauh dibandingkan Boeing 747-400. Berat MTOW (Maximum Take Off Weight) A380 mencapai 544 ton atau setara dengan 6 kali berat Boeing 737-900.

Infografis Airbus A380 (Sumber: anandair.com)

Bandara Bali Siap Melayani Penerbangan Emirates A380-800

Emirates Airlines mulai mengoperasikan A380-800 sejak 2008. Sejak itu Airbus Industry mengirim rata-rata 8-9 pesawat per tahun untuk Emirates hingga delivery terakhir (nomor ekor A6-ERV) dilakukan pada akhir Desember 2021. Saat ini Emirates mengoperasikan total 118 unit A380-800 atau hampir separuh populasi A380. Menurut KNaviation.com pada tahun 2023, A380 Emirates terbang ke 44 kota atau ke 30 negara antara lain: Kairo, Johannesburg, Bangkok, Beijing, Hong Kong, Singapore, Melbourne, Paris, London, Munich, New York dll.

Rute Reguler Emirates A380 di Tahun 2023 (Sumber: Knaviation.net)

Untuk tujuan ke Indonesia, Emirates melayani penerbangan dari Dubai (DXB) ke Denpasar Bali (DPS) menggunakan Boeing B777-300ER. Dalam 1 Minggu  terdapat 11 flight dari DPS menuju DXB dengan nomor penerbangan EK399 setiap hari di jam 00.05 LT dan EK369 setiap hari Minggu, Senin, Jumat di jam 19.05, dan Rabu di jam 19.45. Penerbangan menuju Dubai ditempuh selama hampir 9 jam. Rute yang dibuka sejak 2015 ini ternyata disambut positif oleh para pelancong yang akan menuju Bali. Hal ini terlihat dari load factor/ keterisian penumpang diatas rata-rata dan penerbangan menuju dan dari Bali mencapai dua flight per hari. Untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang yang akan berlibur di Bali, Emirates berencana membawa A380-nya ke Bali menggantikan Boeing B777-300ER.



 

Rencana ini sebenarnya pernah digulirkan sejak 2019 namun karena pandemi Covid C-19 tahun 2020 lalu hingga saat ini belum dapat direalisasikan. Akhirnya pada pertengahan 2022 Emirates kembali menyatakan minat kepada PT Angkasa Pura I selaku operator Bandara I Gusti Ngurah Rai-Bali untuk membawa A380-nya. Seperti yang diberitakan dari Liputan6.com PT AP 1 menyambut baik rencana ini. Setelah melalui serangkaian proses persiapan dari fasilitas pokok bandara (terminal penumpang, apron, taxiway, runway), SDM, regulasi, Standard Operating Procedure (SOP), dll Bandara Bali siap melayani penerbangan perdana A380 yang direncanakan pada tahun ini.

Bandara Bali memiliki runway dengan dimensi panjang 3.000 meter dan lebar 45 meter. Merujuk dokumen AIP DPS, PCN (Pavement Classification Number) runway DPS memiliki kekuatan 83/F/C/X/T. ARFL (Aeroplane Reference Field Length) A380-800 adalah 2.779 meter menurut KP 326 tahun 2019 tentang Standar Teknis dan Operasional Keselamatan Penerbangan Sipil-Bagian 139. Dari tabel KP 326 dibawah diketahui bahwa ACN (Aircraft Clasiffication Number) A380 dalam kondisi MTOW adalah 83/F/C/X/T atau sama dengan PCN runway DPS sehingga dapat disimpulkan pergerakan A380 dapat diakomodasi secara aman. Untuk pergerakan di area taxiway juga dapat dilalui A380 karena PCN taxiway tercatat 84 F/C/X/T sampai 89 F/C/X/T atau lebih tinggi dari ACN.

Nilai ACN Relatif Airbus A380-800 (Sumber: KP 326 tahun 2019)
Aeroplane Reference Field Length A380-800 (Sumber: KP 326 Tahun 2019)

Kebutuhan panjang runway aktual di DPS untuk penerbangan A380 dalam kondisi MTOW dan mempertimbangkan faktor koreksi suhu runway DPS 34 derajat, ketinggian runway 14 feet, dan kemiringan runway 0,1% maka dibutuhkan panjang landasan hingga ± 3.300 meter. Panjang landasan ini tentu lebih panjang dari runway DPS yang hanya 3.000 meter. Namun hal ini tidak menjadi isu karena take-off dengan kondisi MTOW (Maximum Take Off Weight) hanya benar-benar dibutuhkan jika A380 akan terbang sejauh 14.000 km atau sekitar  13 jam terbang. Sedangkan penerbangan ke DXB hanya membutuhkan 9 jam terbang.

Grafik Take Off Weight Limitation Airbus A380 (Sumber: Airbus A380 Airplane Characteristics Airport and Maintenance Planning)

Merujuk pada grafik Take Off Weight Limitation diatas dan memperhatikan faktor koreksi suhu,ketinggian, dan kemiringan runway, A380 Emirates yang ditenagai empat mesin turbofan GP 7200 membutuhkan panjang runway sekitar 2.500 meter agar setelah ditambah faktor koreksi menjadi 3.000 meter seperti panjang runway DPS. Dengan runway length 2.500 meter maka berat maksimal saat take-off adalah sekitar 530 ton atau 30 ton lebih ringan dari berat maksimal MTOW sebesar 560 ton. Jika 30 ton ini merupakan bahan bakar avtur dimana fuel consumption-nya mencapai 11-12 ton per jam maka jarak jangkau pesawat berkurang 2-3 jam dari awalnya sekitar 13 jam menjadi 10-11 jam terbang. Kesimpulannya adalah dengan runway 3.000 m maka A380 dapat menjangkau Dubai sejauh 9 jam terbang. Geometri kebutuhan lebar taxiway, jarak wingtip A380 dengan ujung-ujung pesawat lain, lebar parking stand untuk menampung A380 ketika parkir juga sudah dilakukan verifikasi oleh pihak Kementerian Perhubungan dan Emirates dengan hasil semua faktor tersebut sudah memenuhi persyaratan dan peraturan yang berlaku.

Fasilitas lain di terminal penumpang seperti meja konter check-in, meja konter imigrasi keberangkatan -kedatangan, dan gate keberangkatan juga sudah dipersiapkan untuk mengakomodasi hingga 550 pax. Menurut standar perhitungan dari KM 20 tahun 2005 tentang SNI Perencanaan Terminal Penumpang Bandara dengan peak hour diasumsikan 440 penumpang berangkat/datang (load factor 80%) maka setiap penerbangan A380 membutuhkan tidak kurang dari 16 konter meja check-in, 16 konter meja imigrasi berangkat dan 16 konter meja imigrasi kedatangan serta dibutuhkan minimal dua gate keberangkatan.

Welcome to Bali, Airbus A380 Emirates!

Ridwan Harry

Ridwan Harry

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian