Bandara Paris Charles de Gaulle: Bandara Revolusioner dengan Gaya Arsitektur Brutalisme

Photo by www.atlasofplacescom

Airportman.id – Perang Dunia II berakhir pada 2 September 1945 dengan ditandai dengan menyerahnya Jepang pada Sekutu. Negara-negara di Eropa dan Asia mulai membangun infrastrukturnya yang hancur karena dampak perang dunia. Prancis sebagai negara yang pernah menjadi jajahan Nazi Jerman, mulai menata kembali perekonomiannya dengan bantuan land lease dari Amerika Serikat. Hingga akhirnya tahun 1960-an pertumbuhan ekonomi Prancis kembali bangkit dengan rata-rata pertumbuhan 5% per tahun. Masa-masa pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat ini sering dikenal dengan “les Trente Glorieuses” atau “the glorious thirty”.

Economic Boom Prancis ini berdampak pada pertumbuhan trafik angkutan udara yang mencapai 15-20% per tahun. Tingginya pertumbuhan trafik angkutan udara ini mengakibatkan Bandar Udara Le Bourget Paris, yang berfungsi untuk melayani pergerakan penumpang menuju dan dari Paris, mengalami over capacity. Bandar Udara Le Bourget yang berada di sisi utara Paris hanya memiliki kapasitas maksimal tiga juta penumpang per tahun. Perlu usaha yang cukup besar untuk meningkatkan kapasitas karena area sekitar bandara telah dipadati oleh pemukiman penduduk. Pengoperasian Bandar Udara Le Bourget akhirnya dipindahkan ke Bandar Udara Orly yang berada di selatan Kota Paris. Bandara ini memiliki kapasitas hingga 15 juta penumpang per tahun. Dengan pertumbuhan trafik penumpang yang konsisten di 15-20%, Bandara Orly akan mencapai kapasitas maksimalnya pada tahun 1975, sehingga jelas dibutuhkan sebuah bandara baru yang memiliki kapasitas jauh lebih besar dari Bandar Udara Orly.



Setelah dilakukan kajian kelayakan calon lokasi bandara pengganti Orly, Akhirnya pada tahun 1959 diputuskan bandara baru tersebut berada di Roissy, daerah pertanian yang berada di utara Paris dan berjarak kurang dari 23 kilometer dari pusat Paris. Dikemudian hari bandara ini bernama Paris Charles de Gaulle Airport (CDG). Saat itu Prancis juga sedang melakukan beberapa program unggulan untuk memodernisasi negaranya agar sejajar dengan US dan Jerman antara lain Pengembangan Area Industri di Dunkrik dan pengembangan pesawat penumpang supersonik “Concorde”. Sejalan dengan impian besar ini bandara baru ini juga harus mencerminkan keunggulan Prancis di bidang sipil dan aeronautical engineering. Bandara ini diharapkan memiliki konsep perencanaan dan pembangunan yang revolusioner.

Konsep Revolusioner

Konsep revolusioner yang diterapkan dalam desain bandara ini antara lain konsep jarak antara kendaraan (umum atau pribadi) dan pesawat dibuat sedekat mungkin, proses loading dan unloading pesawat yang cepat dan sederhana, dan bandara ini dapat melayani pesawat terbang berbadan lebar secara bersama-sama tanpa menimbulkan kemacetan. Konsep pengurangan jarak dari kendaraan (umum dan pribadi) menuju pesawat diwujudkan dengan menggabungkan area parkir kendaraan dan main processing area (check in, security check point, immigration, dan baggage reclaim) dalam satu bangunan utama/main building. Untuk mempercepat proses boarding pesawat maka diperkenalkanlah konsep aviobridge yang saat itu masih sesuatu yang baru. Untuk pesawat berbadan lebar akan didukung oleh 6 aviobridge. Agar bandara ini dapat mengoperasikan pesawat wide body secara simultan maka terminal penumpang didesain dengan konsep satellite terminal.

Gambar 1. Gambar Potongan yang Memperlihatkan Main Building-Apron Taxiway-Satellite Terminal (Sumber: www.airporthistory.org)
Gambar 2. Konsep Hubungan Jarak yang Dekat Antara Pesawat-Kendaraan Pribadi/Umum-Area Processing-Area Parkir (Sumber: www.airporthistory.org)

Konsep satellite terminal yaitu konsep bangunan yang memisahkan main building terminal (berisi main processing area dan area parkir) dengan satellite terminal (berisi boarding lounge). Bandara ini memiliki tujuh terminal satellite di sekeliling main building Terminal 1. Dengan konsep pemisahaan ini flow pesawat saat taxiing dapat lebih lancar sehingga dapat mengoperasikan pesawat wide body secara simultan. Untuk menghubungkan main building dengan satellite terminal disediakan tunnel untuk penumpang dan barang.

Penggabungan area parkir dengan area main processor diwujudkan dalam bangunan terminal penumpang berbentuk lingkaran dengan jari-jari ± 100 m. bangunan yang didesain oleh Paul Andreu ini menjadi main building Terminal 1 Bandara Charles de Gaulle. Bangunan berbentuk tabung raksasa ini terdiri dari 11 lantai dimana 4 lantai teratas (lt 7-11) digunakan sebagai area parkir kendaraan, lantai 6 untuk area utilitas, lantai 5 untuk kedatangan, lantai 4 untuk transfer penumpang, lantai 3 untuk area keberangkatan, lantai 2 untuk area servis dan lantai 1 untuk area pemrosesan bagasi.



Gambar 3. Main Building dengan 7 Satellite Terminal (Sumber: www.atlasofplaces.com)

Arsitektur Brutalisme

Bandara ini mengadopsi konsep arsitektur brutalisme yang terlihat pada konsep struktur, fasade, dan interior terminal penumpangnya. Sejarah arsitektur brutalisme berasal dari seorang arsitek Perancis-Swiss bernama Le Corbusier. Pada masa tersebut, gaya arsitektur ini kerap dijumpai pada bangunan sipil, institusional, dan patung. Meski memiliki nama “brutal”, sebenarnya kata tersebut diambil dari bahasa Prancis “béton burt” yang artinya beton mentah atau belum jadi. Gaya arsitektur ini memang identik dengan penggunaan beton sebagai material utama bangunan karena bisa menampilkan kesan kokoh, berat, dan apa adanya. Selain itu, gaya arsitektur ini juga menggunakan batu bata, baja, kaca, dan batu kasar sebagai materialnya.

Gaya arsitektur brutalisme pada bandara ini terlihat dari struktur-struktur bangunan yang terlihat mendominasi fasade seperti kolom-kolom beton ekspos berbentuk Y dengan dimensi yang sangat besar. Fasade lantai 7-11 dengan material beton ekspos semakin memperkuat gaya arsitektur yang menjadi trend di era 1950-1980an.

Gambar 4. Kolom Struktur Terminal 1 yang Menjadi Elemen Estetik Fasade Bangunan (Sumber: www.atlasofplaces.com)

Masterplan

Menurut desain masterplan awal Paris Charles de Gaulle Airport yang didesain oleh Paul Andreu dari biro ADP (Aeroport de Paris), Pada tahap ultimate bandara ini akan memiliki lima runway dengan panjang 3.600 m dan lima main building. Total lahan yang diperlukan sebesar 33 kilometer persegi atau sepertiga dari luas kota Paris. Dengan panjang runway 3.600 m dan jarak antar terminal satellite yang sangat lebar bandara ini bahkan sudah dapat mengakomodasi kebutuhan pergerakan airbus A380 pesawat terbesar didunia yang lahir 50 tahun setelah bandara ini dibangun.

Gambar 5. Masterplan Awal Paris Charles de Gaulle Airport (Sumber: www.airporthistory.org)

Namun dengan beragam pertimbangan seperti jarak tempuh antara main building menuju satellite terminal dirasa cukup jauh dan desain yang sudah ketinggalan jaman, Terminal 2A-2G dibangun dengan konsep linear, tidak lagi dengan konsep satellite terminal seperti terminal 1. Paul Andreu juga dikenal sebagai arsitek Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) khususnya desain terminal T1 domestik dan T2 internasional. Saat itu Paul Andreu dan timnya mendesain bandara CGK dengan 4 runway dan 4 terminal penumpang berkonsep finger terminal yang identik dengan CDG (Charles de Gaulle). Saat itu masterplan CGK didesain dapat menampung hingga 100 juta penumpang pertahun. Sama seperti CDG, pengembangan T3 tidak lagi menganut konsep finger seperti terminal T1 dan T2.

Gambar 6. Desain Masterplan Akhir CDG dengn Terminal 2A-EG Berbentuk Linear (Sumber : www.wikiwand.com)



Ridwan Harry

Ridwan Harry

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian