Bandara Yasser Arafat: Simbol Kebebasan Rakyat Palestina yang Tinggal Kenangan

Photo: DW News

Airportman.id – Palestina pernah memiliki sebuah bandara yang diberi nama sesuai presiden pertama Palestina, Yasser Arafat. Bandara Yasser Arafat yang memiliki IATA code GZA ini berlokasi di Jalur Gaza antara Kota Rafah dan Dahaniya, dekat dengan perbatasan Mesir.

Bandara Yasser Arafat memiliki fasilitas terminal yang mampu melayani hingga 700.000 penumpang pertahun dan memiliki runway dengan perkerasan aspal sepanjang 3.061 meter dengan designation number 01/19.

Pembangunan Bandara Yasser Arafat diiniasi oleh Presiden Yasser Arafat pada tahun 1994 dan merupakan hasil dari Kesepakatan Oslo (Oslo Accords) di tahun 1993, yang memberikan hak bagi rakyat Palestina untuk melakukan pembangunan di Gaza namun Israel memperoleh kendali penuh atas ruang udara.



Bandara dibangun pada tahun 1996 dengan pembiayaan dari Mesir, Jepang, Arab Saudi, Jerman dan Spanyol sebesar 86 juta Dollar Amerika Serikat. Desain bandara dirancang oleh arsitek dan insinyur dari Maroko yang pembiayaannya dilakukan oleh Raja Maroko, Hassan II.

Gambar 1. Pekerja Palestina sedang mempersiapkan paving block pada saat pembangunan Bandara Yasser Arafat di tahun 1997 (Foto oleh Abed Khateeb)

Ada kisah menarik tentang kontraktor yang melaksanakan pembangunan Bandara Yasser Arafat kala itu, Usama Hassan el-Khoudary. Dikutip dari tulisan Hind Khoudary, putri Usama, di situs berita Aljazeera, Usama memberikan penawaran rendah pada saat pelelangan, yang mana tidak memberikannya keuntungan sama sekali, karena yang ia inginkan hanya menjadi bagian dari bandara tersebut dan sejarahnya.

Pembangunan runway dan apron dikerjakan mulai tahun 1996. Untuk meminimalisir pengeluaran biaya pembangunan, Usama mengerjakan pembangunan runway hanya dalam waktu 45 hari saja, separuh dari jadwal penyelesaian. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan hanya sekitar 150 pekerja dan empat kendaraan yang digunakan untuk menggelar aspal 3.000 hingga 3.500 ton per hari.



Setelah runway selesai dikerjakan, masih menurut Al Jazeera, pada tanggal 2 Juni 1996, Yasser Arafat menelepon Kapten Zeyad al-Bada yang merupakan Kapten Pilot Palestinian Airlines dan juga pilot pribadi Yasser Arafat, bahwa ia ingin menjadi yang pertama mendarat di runway baru Bandara Gaza tersebut.

“Tidak ada peta udara, tidak ada radar, Bandara Gaza bahkan tidak dikenali secara global,” ujar al-Bada kepada Aljazeera. Al-Bada khawatir ia akan mendarat di runway dengan kualitas aspal jalanan, bukan aspal dengan kualitas tinggi. Tangan dan kakinya gemetar selama penerbangan, namun semuanya berjalan dengan baik dan lancar.

“Ketika saya mendarat, saya melihat kerumunan orang menari, saya secara spontan mengambil bendera Palestina berukuran kecil dari lemari Yasser Arafat dan mengangkatnya ke luar jendela, menyapa kerumunan orang-orang di luar”

Bandara Yasser Arafat baru secara resmi dibuka pada tahun 1998. Upacara pembukaan bandara tersebut dihadiri oleh Presiden Yasser Arafat dan Presiden Amerika Serikat kala itu Bill Clinton. Dibukanya Bandara Yasser Arafat menjadi asa bagi rakyat Palestina kala itu untuk pembentukan Negara Palestina dan simbol kebebasan mereka.

Gambar 2. Yasser Arafat dan Bill Clinton melakukan seremoni pemotongan pita dalam rangka pembukaan Bandara Yasser Arafat pada Desember 1998. (Foto oleh Stephen Jaffe)

Bandara Yasser Arafat menjadi base bagi maskapai Palestinian Airlines sebelum terpaksa dipindahkan ke Bandara El Arish di Mesir akibat serangan militer Israel ke Bandara Yasser Arafat di tahun 2001. 

Selain Palestinian Airlines, maskapai Royal Air Maroc dan Egyptair sempat terbang melalui Bandara Yasser Arafat di pertengahan tahun 2000.

Usia Bandara Yasser Arafat sangatlah singkat, kurang lebih tiga tahun saja. Pada bulan September 2000, bandara ditutup karena adanya gerakan perlawanan rakrat Palestina terhadap Israel atau Intifada. Walaupun setelah itu operasional bandara sempat dilanjutkan, Israel pada akhirnya melakukan serangan udara dan pengeboman terhadap stasiun radar dan menara control di tanggal 4 Desember 2001 dan melakukan perusakan pada runway menggunakan buldoser pada 10 Januari 2002. Setelah kejadian itu, bandara tidak pernah lagi beroperasi.

Gambar 3. Kondisi runway Bandara Yasser Arafat yang dirusak menggunakan bulldozer oleh Israel. (Foto oleh Alexander Zemlianichenko)

Pada Maret 2002, International Civil Aviation Organization (ICAO) mengecam keras Israel atas penyerangan tersebut. Israel dianggap melakukan pelanggaran terhadap isi Konvensi untuk Pemberantasan Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Konvensi Montreal, 1971). ICAO mendesak Israel untuk melakukan langkah-langkah pemulihan agar bandara dapat dioperasikan Kembali.

Pada 15 November 2005, setelah berakhirnya Intifada, Israel dan Palestina melakukan penandatanganan Perjanjian tentang Pergerakan dan Akses yang  menyatakan: “Para pihak sepakat tentang pentingnya bandara [Yasser Arafat]. Diskusi akan berlanjut pada masalah pengaturan keamanan, konstruksi dan operasi.”

Namun seiring berjalannya waktu, Israel terus berdalih bahwa akan adanya masalah keamanan apabila Bandara Yasser Arafat dibuka. Mereka khawatir akan adanya penyelundupan persenjataan dan relawan untuk mendukung perlawanan, serta menurut Israel bandara tersebut tidak memiliki manfaat bagi rakyat Palestina.

Impian rakyat Palestina untuk dapat melakukan perjalanan udara melalui bandara yang menjadi simbol kebebasan mereka tersebut semakin pudar seiring tahun-tahun berlalu.


Giovanni Pratama

Giovanni Pratama

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian