Inggris akan Longgarkan Syarat Perjalanan Udara

Foto: Unsplash

Airportman.id – Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, pada hari Rabu lalu (5/1) mengumumkan rencana pelonggaran Syarat Perjalanan Udara bagi turis yang datang ke Inggris mulai hari Jumat (7/1) pukul 04.00 GMT atau 11.00 WIB.

Turis yang datang ke Inggris dan telah divaksinasi lengkap tidak lagi perlu melakukan tes COVID-19 sebelum keberangkatan. Dan aturan terkait isolasi mandiri pada saat kedatangan juga akan berubah.

Syarat yang berlaku saat ini, semua turis yang telah divaksinasi lengkap di atas usia 12 tahun harus menunjukan hasil tes negatif PCR atau Antigen. Tes harus dilakukan dalam dua hari sebelum keberangkatan ke Inggris. Selain itu mereka masih harus melakukan tes PCR dalam waktu dua hari setelah kedatangan dan wajib mengisolasi diri sambil menunggu hasil tes keluar.

Untuk orang yang belum divaksinasi lengkap saat ini wajib melakukan tes PCR pada hari kedua dan hari kedelapan setelah tiba di Inggris, dan wajib isolasi mandiri selama 10 hari.

Pada syarat perjalanan yang baru :

  • Mulai Jumat (7/1) pukul 04.00 GMT, orang yang telah divaksinasi lengkap dan yang berusia di bawah 18 tahun tidak wajib melakukan tes PCR sebelum keberangkatan. Pada saat kedatangan mereka harus melakukan tes, mereka harus melakukan tes PCR tanpa harus isolasi mandiri selama menunggu hasil tes.
  • Mulai Minggu (9/1) pukul 04.00 GMT, mereka hanya perlu melakukan tes antigen/lateral flow pada hari kedua. Namun tes tersebut harus dibeli dari penyedia swasta.
  • Orang yang tidak atau belum divaksinasi harus terus mengikuti tes sebelum keberangkatan, tes PCR pada hari kedua dan delapan, dan mengisolasi diri selama 10 hari.

Pengumuman tersebut disambut baik oleh operator bandara, maskapai dan agen perjalanan di Inggris. Mereka berpendapat bahwa apabila syarat-syarat yang saat ini berlaku terus dilanjutkan akan menjadi bencana bagi industri penerbangan dan perjalanan.

Dilansir dari International Airport Review, Ketua Eksekutif Asosiasi Operator Bandara Inggris (AOA), Karen Dee mengatakan: “Menghapus semua pembatasan perjalanan adalah pengakuan yang disambut baik bahwa pemerintah tidak lagi melayani tujuan tertentu, sekarang Omicron cukup “mapan” di Inggris.”

““Meskipun penghapusan pembatasan perjalanan, bandara terus menghadapi periode yang sulit. Masih ada negara-negara yang memberlakukan pembatasan kedatangan di Inggris dan kepercayaan konsumen telah terpukul selama periode Natal yang cukup penting. Inggris dan pemerintah yang didelegasikan harus menetapkan bagaimana mereka akan mendukung penerbangan menuju pemulihan berkelanjutan untuk memastikan Inggris memiliki konektivitas dan bandara yang diperlukan untuk pemulihan ekonomi,” lanjutnya.

CEO EasyJet Johan Lundgren kepada BBC juga menyambut baik berita tersebut, dengan mengatakan itu akan membuat perjalanan “lebih sederhana dan mudah”, karena pelanggan sekarang dapat memesan dan bepergian dengan lebih percaya diri.

Namun tidak sedikit pula yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah Inggris. Dikutip dari BBC, salah seorang calon penumpang yang berencana terbang ke Inggris dari Amerika Serikat, John Wyndham menuturkan, “Saya frustrasi karena tes sebelum keberangkatan adalah hal yang paling penting sebagai kontrol yang efektif dan termurah.”

“Sungguh gila kita sekarang bisa duduk di pesawat dengan seseorang yang terinfeksi” katanya, seraya menambahkan, “memperburuk apa yang telah menjadi perjalanan paling menegangkan dalam hidup saya.”

Seperti diketahui, Inggris menjadi salah satu negara yang sangat terdampak virus COVID-19 varian Omicron. Tercatat menurut data JHU CSSE pada tanggal 5 Januari 2022 rata-rata kasus baru dalam 7 hari di Inggris mencapai 182.201 kasus.

Menurut laporan perusahaan analisis data penerbangan, Cirium, pada tahun 2021, penerbangan internasional di Inggris turun drastis hingga 71%.

Airportman Indonesia

Airportman Indonesia

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian