Mengenal Pengoperasian dan Pengembangan Bandara dengan Sistem Multi-Airport

sistem multi-airport
Photo: sita.aero

Airportman.idPertumbuhan trafik penerbangan di suatu bandara pada umumnya akan semakin meningkat dari tahun ke tahun selaras dengan pertumbuhan ekonomi kota atau negara tersebut. Untuk mengantisipasi pertumbuhan trafik ini pengelola bandara akan melakukan perluasan atau penambahan fasilitas bandara untuk menjaga standar pelayanan minimal terhadap pengguna bandara.

Secara umum yang akan ditambah luas atau jumlahnya antara lain penambahan parking stand, pembuatan rapid exit taxiway, penambahan gate keberangkatan, atau penambahan jumlah parkir kendaraan umum. Penambahan fasilitas ini akan terus dilakukan sampai bandara tidak dapat dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan atau faktor teknis lainnya hingga mengakibatkan bandara menjadi over capacity.

Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan pembangunan satu atau lebih bandara baru untuk mendukung operasional bandara eksisting. Pengoperasian dua bandara atau lebih ini dikenal dengan sistem multi-airport.

Bandara utama/eksisting disebut primary airport dan bandara kedua disebut secondary airport. Pada umumnya secondary airport memiliki trafik penumpang antara 10-50% dari primary airport. Bandara-bandara ini memiliki cakupan catchment area yang relatif sama dan umumnya terjadi di kota-kota besar dan metropolitan area sebagai generator utama penghasil trafik penumpang pesawat terbang terbesar di negara tersebut.

Kota-kota besar dunia yang memiliki sistem multi-airport diantaranya: London, Paris, New York, San Fransisco, Seoul, Berlin, dan Tokyo. London terdapat enam bandara yaitu Heathrow, London City, Gatwick, Standsted, Southend dan Luton. Tokyo memiliki dua bandara yaitu Narita dan Haneda. Prancis memiliki Bandara Charles De Gaulle dan Orly. Area metropolitan yang memiliki sistem multi-airport salah satu diantaranya adalah area metropolitan San Fransisco yang mencakup kota San Fransisco, Oakland, dan San Jose, dimana tiap kota tersebut memiliki bandara.

Sumber : Airport System: Planning, Design, and Management

Pembagian fungsi antara bandara utama dan bandara pendukung secara umum dipengaruhi oleh jenis airlines dan destinasi/tujuan penerbangan. Airlines dengan pelayanan full service biasanya menggunakan bandara utama sebagai basis operasi mereka sedangkan bandara pendukung menjadi basis airlines Low Cost Carriers (LCC)/no frills. Contohnya adalah Bandara London-Stansted sebagai basis dari maskapai LCC Ryanair dan Bandara Heathrow didominasi oleh maskapai full-service British Airways.

Pembagian fungsi bandara menurut destinasi/tujuan penerbangan contohnya adalah Haneda Airport dengan Kansai Airport. Haneda melayani 90% destinasi domestik dan Kansai melayani destinasi internasional. Tiga bandara di Moscow-Rusia dibagi fungsinya berdasarkan destinasi penerbangan. Bandara Shemeretyevo difokuskan untuk melayani penerbangan internasional. Bandara Domodedovo untuk melayani penerbangan ke wilayah timur Rusia seperti Siberia, Ural, dan kota-kota lain di Timur Rusia. Sedangkan Bandara Vnukovo untuk melayani penerbangan ke selatan Rusia atau menuju Ukraina.

Pembangunan dua atau lebih bandara di satu kota selain alasan teknis, seperti over capacity di bandara eksisting, juga dapat disebabkan oleh alasan lain seperti alasan politis, pertahanan keamanan, atau pertimbangan pertumbuhan ekonomi suatu kawasan.

Contoh bandara multi-airport yang dibangun dengan alasan politis, salah satunya adalah bandara di Berlin. Pada tahun 1945 Jerman terbagi menjadi dua bagian yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur sebagai kompensasi kekalahan mereka pada Perang Dunia Kedua. Pembagian wilayah ini juga terjadi pada Ibukota Jerman yaitu Berlin. Berlin terbagi dua yaitu Berlin Barat yang dikuasai oleh negara-negara sekutu (AS, Inggris, Prancis) dan Berlin Timur yang dikuasai oleh Uni Soviet. Bandara Berlin Timur adalah Berlin Schoenefeld Airport dan Bandara Berlin Barat adalah Tegel Airport. Pasca keruntuhan Uni Soviet di 1991, banyak penerbangan di Schoenefeld Airport dialihkan ke Tegel Airport. Untuk mendukung operasional bandara ini Pemerintah Jerman mengembangkan bandara baru dengan memanfaatkan runway Schoenefeld yaitu Brandenburg Airport.

Bandara dengan sistem multi-airport yang dibangun dengan latar belakang pertahanan dan keamanan salah satunya adalah tiga bandara di Moscow-Rusia yaitu Sheremetyevo, Domodedovo, danĀ  Vnukovo.

Pembangunan bandara dengan sistem multi-airport untuk mengurangi ketimpangan pertumbuhan antar wilayah salah satunya adalah rencana pengembangan Bandara Bali Utara. Rencana pengembangan Bandara Bali Utara yang studinya sudah dilakukan sejak 2012 ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah utara Pulau Bali. Sebagaimana kita ketahui pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Dewata saat ini masih berpusat di selatan Bali seperti di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

Perencanaan untuk pengembangan bandara dengan konsep multi-airport menjadi lebih sulit jika dibandingkan perencanaan bandara tunggal (single airport system). Jika pada bandara tunggal, yaitu bandara yang melayani kota tanpa memiliki kompetitor bandara lain disekitarnya, perencanaan pengembangan bandara akan berdasarkan pada hasil studi forecast trafik penumpang di bandara tersebut. Jika tidak terdapat force majeur seperti pandemi, perang dll maka perencanaan pembangunan bandara akan dapat diperkirakan waktu pembangunan untuk perluasan fasilitas bandara dan besaran luasan fasilitasnya.

Sedangkan pada perencanaan bandara dengan sistem multi-airport menjadi lebih sulit untuk memperhitungkan forecast/pertumbuhan trafik penumpang karena terdapat faktor lain seperti adanya bandara kompetitor dan dinamika pasar (market dynamics) yang lebih fluktuatif. Perubahan kebijakan suatu airlines untuk memindahkan basis operasinya dari bandara satu ke bandara lainnya di dalam sistem multi-airport, adanya maskapai LCC yang bangkrut, atau adanya insentif yang diberikan suatu bandara kepada penumpang atau airlines dapat menyebabkan perubahan jumlah trafik penumpang di bandara tersebut. Perubahan-perubahan ini menyebabkan perencanaan pengembangan bandara menjadi lebih sulit karena faktor ketidakpastiannya menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem single airport.

Untuk mengantisipasi kesalahan dalam penyusunan forecast trafik penumpang yang menjadi acuan dalam pengembangan bandara, Richard de Neufville, dalam bukunya Airport System Planning Design, menganjurkan agar pengelola bandara untuk terus mengikuti perkembangan dinamika pasar terkait pertumbuhan trafik airlines di bandara sekitar.

Baca juga: Forecasting dalam Perencanaan Bandar Udara

Selain itu perlu untuk dilakukan membagi pentahapan pengembangan bandara lebih banyak dari biasanya. Pada umumnya pengembangan bandara hingga tahap ultimate dibagi menjadi tiga sampai lima tahapan.

Khusus untuk bandara dengan sistem multi-airport pentahapan dapat diperbanyak lagi. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi jika ternyata setelah pembangunan terjadi perubahan market penerbangan sehingga penggunaan fasilitas tersebut menjadi tidak maksimal, maka risiko kerugian dapat dikurangi. Dengan pentahapan yang lebih banyak maka akan lebih banyak alternatif pengembangan, jika diperlukan perubahan desain pengembangan bandara untuk mengikuti dinamika pasar yang dapat berubah dalam waktu singkat. Layout tata letak fasilitas bandara juga didesain sefleksibel mungkin untuk mengakomodasi perubahan desain pengembangan bandara.

Ridwan Harry

Ridwan Harry

Bagikan artikel ini di media sosial Anda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian